beberapa saat yang lalu, gue sempet ngobrol" sm tmn gue tentang "kepenuhan hidup", kedengerannya emang berat, tapi kita ngobrolnya santai sebenernya.
tmen gue itu adalah tipikal orang yg gemar melawan "aturan", as y'all know, there are a lot of rules, which make no sense. he's in his late 20's, that's why I like to discuss a lot of things with him.
okay, off to the topic...
kalo orang indo ditanya, seperti apa hidup yg penuh, pasti kita bakal denger jawaban:
-udah lulus master
-udah berpenghasilan tetap
-udah BERKELUARGA
minimal 3 point itu pasti keluar, setuju?
tapi yang gue tanyakan, apakah itu benar?
gue sebentar lagi (kayaknya) pulang ke indo, setelah ilang di negeri orang selama 2 taun.
dan gue tau banged gue bakal jadi 'barang pameran' ke tmn" nyokap.
dan gue tau banged di antara mereka, pasti ada yang nanya, "bernard udah semester berapa?"
kemudian pasti mereka bakalan bingung begitu gue bilang 'belom kuliah, tante'
pasti akan ada tatapan meremehkan dari mata mereka, gue ngerti banged.
menurut gue itu rada salah, karena scara gag langsung si penanya itu udah memberi beban ke gue, untuk lulus lebih cepat, yg sebenernya menjadi urusan pribadi gue sebagai seorang manusia.
dan the fucked up thing is, they will keep asking such a 'difficult' question.
jadi, kalo gue udah lulus, pasti mereka akan nanya, 'udah pnya pacar blom?'
klo gue jwab udah, mereka akan nanya, 'kapan nikah?'
setelah nikah, mereka akan nanya, 'kapan pnya anak?'
kalo uda pnya anak, akan muncul pertanyaan" baru, seperti,
-anak mw sekolah di mana?
-mw dikuliahin dimana?
de es te
sampe kalo udah semua beres, mereka akan nanya, 'kapan mati?'
it's so pathetic.
I mean, all that things are my privacy, and moreover i have a thing called brain to make decision, and to form the shape of my own life.
dan yang paling nervig, kenapa ukuran kesempurnaan hidup manusia harus diukur dari pernikahan? dari dulu gue udah denger itu, dari gue kecil, bahwa pernikahan itu menyempurnakan kehidupan.
tapi, apa yang gue liad sekarang, pernikahan itu tidak selalu, bahkan jarang 'menyempurnakan' kehidupan.
angka perceraian yang selalu meningkat, banyaknya keluarga 'broken home', membuat gue berpikir, itu kah kesempurnaan yang orang-orang berusaha capai?
gue sendiri udah beberapa kali pacaran, dan menurut gue, gag gampang untuk hidup bersama orang lain.
Ini karena semua orang itu special menurut caranya sendiri, dan otomatis semua orang punya pendapat sendiri. dan semua orang tau, ketika ada lebih dari satu pendapat, maka hrus dicari jalan tengah. menurut gue itu wasting time.
contohnya:
- gue tinggal bareng sama satu pasangan, dua-duanya orang indo, dan hal yang selalu terjadi setiap seorang mau pergi adalah, mesti lapor. jadi kalo cewenya mau k party, mesti lapor dulu sama 'laki'-nya. problem pun muncul kalo lakinya gag ngijinin, pasti ada acara adu teriak dulu (which is the reason ,why i bought a noise cancelling headphones). dan ujung"nya kalo cwenya boleh kesana, pasti tu cewe telat dan lakinya ikutan. seandainya mereka gag pacaran, pasti tu cewe bisa dateng tepat waktu and probably having a good time there.
Setelah ngeliad mereka, gue jadi sadar gimana gue pacaran dulu, gimana egoisnya gue, gimana childish-nya gue.
but personally, gue rasa kepenuhan hidup ga harus dicapai dengan pernikahan. menurut gue kepenuhan hidup seorang manusia tercapai kalo orang itu udah dewasa, udah gag labil, udah tau apa tujuan hidupnya, dan hidupnya tanpa beban. menurut gue seseorang bisa dibilang 'penuh' kalau udah memenuhi kriteria" itu.
Mengenai pernikahan, gue rasa itu optional, tapi harus dilakukan dengan pertimbangan yang mateng. Karena kalau seseorang yang belom dewasa menikah, pasti berantakan dah rumah-tangganya. selain itu juga diperluin tingkat kemapanan tertentu buat nikah, soalnya nikah itu bisa diumpamain kayak nandatanganin kontrak jangka panjang, bagi yang cowok ya. soalnya cowok akan menjadi kepala keluarga, jadi seseorang pemimpin, dan dia akan bertanggungjawab terhadap manusia-manusia lain yang notabene adalah anggota keluarganya. menurut gue itu adalah tugas yang bener-bener berat. dan selain itu cowok harus bisa menghidupi keluarganya, kalau itu tidak terpenuhi, bisa aja terjadi perceraian.
na ja, tapi untuk gue sendiri, target gue tu cuma satu, gue mau hidup tanpa bergantung dengan orang lain, dengan begitu gue bisa hidup tenang.
soal pasangan hidup, gue rasa gue bakal just let it flow. soalnya hampir semua cewe bae udah in a relationship, dan cewe bae yang masih single ogah sama gue.
anyway gue udah selese pindahan nih, dan gue overally puas dengan kamar baru yang gue design sendiri.
kayaknya segitu dulu deh postingan gue, udah cukup panjang juga :p
have a nice day, folks, wherever you are
I'm signing out for a while
Tschuessi :)